RADIO DEWI ANJANI

Get the Flash Player to hear this stream.

Biografi Pendiri Nahdlatul Wathan, Bagian 2: Pujiannya

Tentang kerajinan, ketekunan, kecerdasan dan keberhasilan perjuangan Al Mukarram Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendapat pujian, sanjungan, dan komentar dari para maha guru beliau, teman seangkatan beliau, dan Ulama’-Ulama’ besar lainnya serta pejabat pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat, diantaranya adalah sebagai berikut :

Syaikh Zakari Abdul Bila, Ulama Besar Kota Suci Makkah teman seangkatan beliau mengatakan, “Saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin. Saya bergaul dekat dengannya beberapa tahun. Saya sangat kagum kepadanya. Dia sangat cerdas, akhlaknya mulia

Dia sangat tekun belajar, sampai sampai jam istirahatpun diisinya dengan menekuni kitab-kitab dan berdiskusi dengan kawan-kawan. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku, kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi di kala dia dan saya bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah Shaulatiyah Makkah. Saya sungguh menyadari akan hal itu. Syaikh Zainuddin adalah manusia ajaib dikelasku karena kegeniusannya yang sangat tinggi. Syaikh Zainuddin adalah ulama’ mujahid. Dia berjuang untuk kejayaan agama, nusa dan bangsanya. saya tahu telah beberapa banyak otak manusia yang diukirnya, telah berapa banyak kader-kader penerus agama, nusa dan bangsa yang dihasilkannya. Saya tahu dia mukhlis (orang ikhlas) dalam berjuang menegakkan iman dan taqwa di negerinya, rela berkorban, cita-citanya luhur. Kelebihannya selain yang disebutkan bahwa dia selalu mendapatkan do’a dari Ulama’-Ulama’ besar di Tanah Suci Makkah Al Mukarramah, utamanya Maulana Syaikh Hasan Muhammad Al Masysyath.

Pujian Syaikh Zakaria Abdullah Bila tersebut dikuatkan lagi oleh maha guru yang paling dicintai dan paling banyak mendo’akan dan memberikan inspirasi dalam perjuangan beliau, yaitu Maulanasysyaikh Hasan Muhammad Al Masysyath dengan ucapan “Saya tidak akan berdoa kehadirat Allah SWT. kecuali kalau Zainuddin itu sudah nampak jelas bersamaku”. Beliau juga mengatakan bahwa beliau menyayangi setiap orang yang sayang kepada Syaikh Zainuddin dan tidak menyayangi setiap orang yang tidak sayang kepada beliau. Selanjutnya beliau menegaskan bahwa Syaikh Zainuddin adalah ayatun min ayatillah (satu tanda kebesaran Allah SWT).

Mahaguru beliau Al Allamah Asy Syaikh Salim Rahmatullah Mudir (direktur) Madrasah Shaulatiyah menegaskan “Madrasah Shaulatiyah tidak perlu memiliki murid banyak, cukup satu orang saja, asalkan memiliki prestasi dan kualitas seperti Zainuddin”. Al Allamah Al Adib Asy Syaikh As Sayyid Muhammad Amin Al Kutbi juga maha guru beliau memberikan pujian dalam syair berbahasa arab, yang artinya :

Demi Allah saya kagum pada Zainuddin
Kagum pda kelebihannya atas orang lain
Pada kebesarannya yang tinggi
Dan kecerdasannya yang tiada tertandingi
Jasanya bersih ibarat sebuah permata
Menunjukkan kebersihan ayah bundanya
Karya-karya tulisnya indah lagi menawan
Penaka bunga-bungaan
Yang tumbuh teratur dilereng pegunungan

Dilapangan ilmu ia dirikan Ma’had
Tetap dibanjiri thullab dan thalibat
Menuntut ilmu mengkaji kitab
Ia kobarkan semangat generasi muda
Menggapai mustawa dengan karyanya
Mi’rajushshibyan ila sama”i ‘ilmilbayan

Semogalah Allah memanjangkan usianya
Dan dengan perantaraannya
ia memajukan ilmu pengetahuan
di Ampenan bumi Selaparang
Terkirimlah salam penghormatn
Harum semerbk bagaikan kasturi
Dari Tanah Suci Manuju ‘Rinjani”

Syaikh Ismail Zain Al Yamani Al Makki, seorang ulama’ besar Kota Suci Makkah Al Mukarramah sangat kagum kepada Syaikh Zainuddin, kagum kepada ketinggian ilmu dan keberhasilan perjuangan beliau.  Dengan penuh keikhlasan ulama’ besar Kota Suci itu mengatakan bahwa beliau menyayangi siapa saja yang disayangi Syaikh Zainuddin dan tidak menyayangi siapa saja yng tidak disayangi beliau.

Fadlilatul ‘Allamah Prof. Dr. Sayyid Muhammad ‘Alawi ‘Abbas  Al Maliki Al Makki, seorang ulama’ besar Kota Suci Makkah pernah mengatakan bahwa tidak ada seorangpun ahli ilmu di kota Suci Makkah Al Mukarramah baik thullab maupun ulama’ yang tidak kenal akan kehebatan dan ketinggian ilmu Syaikh Zainuddin. Syaikh Zainuddin adalah ulama’ besar bukan hanya milik ummat Islam Indonesia tetapi juga milik ummat Islam sedunia.

Prof. Dr. Abdul Wahhab Ibrahim Abu Sulaiman Guru Besar universitas Ummul Quro Makkah menegaskan bahwa Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah ulama’ yang ahli dalam semua bidang ilmu keislaman serta memiliki kelebihan atas Ulama’-Ulama’ lainnya dan beliu adalah sisa ulama’ salaf yang saleh (Baqiyyatussa-lafishshalih).

H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dalam kapasitas sebagai Menteri Agama RI mengatakan bahwa andaikata bukan karena usaha NWDI, wajah masyarakat Lombok tidak seperti yang kita lihat sekarang ini, tetapi masih hidup dalam nilai-nilai jahiliyah.

Dr. H. Haryono Suyono Kepala BKKBN Pusat / Menteri Negara Kependudukan menegaskan bahwa NW bukan saja singkatan dari Nahdlatul Wathan tetapi juga singkatan dari “Nomor Wahid” karena kepeloporan an keberhasilannya dalam meningkatkan kesejahteraan mummat dan menyukseskan Gerakan KB Nasional.

Sesudah berita kewafatan Al Mukarram maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tersiar, mengalirlah pujian dan komentar dari berbagai kalangan, antara lain :

Drs. H. Warsito, SH. Gubernur Nusa Tenggara Barat merasa kehilangan yang cukup mendalam dengan wafatnya Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang memiliki kharisma yang cukup tinggi di mata masyarakat,  “Kami dan umat Islam tidak saja di NTB juga di luar daerah bahkan mungkin umat Islam di luar negeri sungguh merasa kehilangan”.

H. M. Sadir, SIP Bupati Lombok Timur mengatakan bahwa kepergian Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mengundang rasa iba dan kehilangan tidak saja dirasakan oleh Islam di NTB juga diluar daerah bahkan mungkin di luar negara. Sebab beliau termasuk ulama’ yang sangat tersohor hingga ke negeri Arab dimana beliau pernah menimba ilmu agama.

Bupati Lombok Barat Drs. H. L. Mujitahid mengatakan bahwa dia beserta seluruh warga Lombok Barat betul-betul sangat merasa kehilangan tokoh kharismtik yang selama ini sangat dihormati oleh umat Islam di NTB dan luar daerah. Saya sangat terkesan dengan kepemimpinan Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang begitu besar, Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid merupakan sosok orang tua sekaligus. Tuan Guru yang pertama kali menyelenggarakan pendidikan formal di NTB seperti sekarang memang sudah ada Tuan Guru-Tuan Guru sebelum Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tetapi sistem pendidikan yang diselenggarakan masih dengan pola pengajian duduk (halaqah). Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama memimpin, tidak pernah mengenal lelah dalam berdakwah untuk menyebarkan kebenaran, hingga akhir hayatnya. Beliau tidak pernah istirahat sekalipun di atas tempat pembaringan. Beliau merupakan sosok pemimpin yang sungguh luar biasa. Mungkin tidak banyak pemimpin seperti itu dalam memimpin ummat. Patriotisme (semangat kebangsaan) yang beliau tanamkan sangat tinggi. Termasuk dalam bidang pembangunan. Beliau memimpin sejak tahun 1930 an di mana pada saat itu fasilitasnya betul-betul serba minus dan nol hingga bisa berkembang seperti sekarang ini. Ini betul-betul perjuangan yang luar biasa yng telah dilakukan beliau.

H. Abul Kadir – Ketua DPRD Tk I Nusa Tenggara Barat mengatakan bahwa kali pertama dia bertemu dengan Al mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tanggal 30 Mei 1983 (waktu itu jadi Dandim Lotim). Saat itu beliau berpesan, bahwa sebagaimana orang beragama harus pndai-pandai memegang amanah dengan teguh dan mampu mempertanggung jawabkannya kepada Tuhan, kepada masyarkat dan kepada alam (lingkungan). Dalam kaitan itu setiap pemimpin harus berpegang kepada empat sifat Rasul yakni shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, seorang pemimpin jangan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Jika ada pejabat demikian berarti telah menghianati amanah yang  diberikan. Ada beberapa fatwa beliau yang telah terngiang di telinga ketua DPRD ini. Fatwa dimaksud yakni sebagai seorang muslim harus selalu memiliki iman yang teguh dalam menghadapi masalah. Disamping itu, dalam menghadapi fitnah seorang pemimpin harus diam seraya memohon hidayah dari Allah SWT.

KH. Ahmad Usman – Ketua MUI Nusa Tenggara Barat menegaskan bahwa sosok Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam mendakwahkan Islam tidak akan pernah dapat terlupakan. Kalau tidak ada NW di Lombok ini mungkin sebagian besar umat tetap menganut “Waktu Telu” keistimewaaan yang diberikan Allah SWT kepada Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yakni berupa umur panjang dan umur dimaksud dipergunakan untuk berdakwah dan melakukan kebaikan. Yang tidak dapat dilupakan juga adalah peran Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam mendirikan dan membangun madrasah dan perguruan untuk kepentingan ummat. Bahkan banyak murid beliau kini telah menyebar di berbagai propinsi, inilah amal beliau dalam mendakwah Islam termasuk wakaf bangunan.

H.M. Tubat – Kakanwil Departemen Agama Propinsi Nusa Tenggara Barat mengatakan bahwa Al Mukkaram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid adalah tuan guru yang kharismanya luar biasa. Dia aktif mendirikan madrasah dan memberikan dakwah. Melihat kegigihan tuan guru dalam menyiarkan Islam sepertinya sulit mencari pengganti yang menyamainya.

Masih banyak lagi komentar dari berbagai kalangan. Namun kita yakin bahwa setiap orang yang mempunyai gairah keagamaan sudah pasti merasa kehilangan atas kepergian Al Mukarram Maulanasysyaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, tapi apa daya semua itu sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Kita berharap mudah-mudahan semua pengikut dan murid-murid beliau diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk melanjutkan perjuangan  beliau, amin ya mujibbassa’ilin

 

Bagian 3 - Kepemimpinan

Dipublikasikan › 09-08-2016 | Dibaca › 2351 kali

Komentar