RADIO DEWI ANJANI

Get the Flash Player to hear this stream.

Kehendak Maulana

Insya Allah nanti apabila Tuan Guru Bajang Zainuddin II sudah besar, semua yang malas mengajar akan diberhentikan, entah 15 tahun yang akan datang atau 25 tahun, tetapi mudah-mudahan 1 tahun yang akan datang. (Fatwa Maulana Syaikh Jum'at, 07-05-1409 H / 16 Desember 1988 M - Umur Zainuddin II saat itu sekitar 7 tahun).

,اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى قَضَاءُهُ لَا يُرَد
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَفْضَلِ الْعِبَاد

 

Tentang masa kanak-kanaknya juga sungguh banyak keajaiban. Suatu waktu saat masih TK misalnya beliau pernah dipanggil Maulana al-Syaikh "Zainuddin Tsani ma kteq, kee gitaq langan tene epe gaweq dengan ito leq Labuan Lombok" [coba lihat dari sini apa kelakuan orang-orang di pantai Labuan Lombok sana]. Maulana pun membuka tabir maya itu. "Yaok ninik makat dengan maksiat doang no makat ndek keruan ruan gawekne" [lah, kok tidak karuan pekerjaan orang-orang itu], komentar Zainuddin Atsani saat menyaksikan terbukanya tabir itu. "op wah kee", potong Maulana. [sudahlah]. Sepertinya Maulana al-Syaikh menahan (pause) apa yang disaksikan oleh Zainuddin Atsani dari Gedeng Dese. Apa yang disaksikan Zainuddin Tsani pun dilaporkan kepadap petugas keamanan (Satpam Bupati). Mereka pun mengecek kebenarannya dan penglihatan itu benar terjadi.

Umur kanak-kanak beliau sudah bisa mengindera atau meneropong sesuatu dari jauh. "Ini bukan semata-mata karena kemampuan saya pribadi tetapi saya dikehendaki oleh Maulana al-Syaikh", tutur beliau. "Saya hanya ditujukkan bahwa beliau memberikan saya keistimewaan. Dan keistimewaan itu masih saya miliki sampai sekarang. Semua atas kemauan beliau, Maulana al-Syaikh", imbuhnya. Zainudin Atsani mengibaratkan bahwa ilmu hikmah Maulana al-Syaikh yang telah beliau dapatkan pemakaiannya ibarat hanya dengan memutar batang kunci sebuah pintu besar.

Zainuddin Atsani juga menjelaskan bahwa Maulana al-Syaikh belum memberikan izin untuk membuka pada saat muda belia karena Maulana al-Syaikh menghawatirkan tidak digunakan secara tepat. Beliau juga belum dibukakan sepenuhnya agar terhindar atau terjerumus pada sifat angkuh atau sombong. RTGB menjelaskan bahwa beliau lebih tahu (wikan) kondisi cucunya. "Jika beliau berkenan beliau sendiri yang atur dan tidak mungkin saya tolak", tegasnya.

Zainuddin Atsani juga diberikan keutamaan untuk dapat mengetahui percakapan atau perilaku orang sesuai yang diinginkannya. Beliau bercerita bahwa pengetahuan itu kadang seperti menyaksikan telivisi kadang juga seperti mendengar siaran radio. Zainuddin Atsani juga sering mendapatkan pelajaran-pelajaran hikmah. Salah satu pertanda kehadiran ilmu hikmah tersebut adalah beliau dihinggapi rasa ngantuk yang tak tertahankan.

Peristiwa Kebon Ayu

Pada suatu ketika, Maulana al-Syaikh akan mengadakan pengajian sekaligus meresmikan sebuah madrasah di Desa Kebon Ayu – Gerung – Lombok Barat. Akan tetapi, oleh Bupati Lombok Barat, yang saat itu dijabat oleh H.L. Mujitahid, Maulana al-Syaikh dilarang mengadakan pengajian di Desa Kebon Ayu dengan alasan orang-orang Kebon Ayu tidak setuju. Akan terjadi keributan jika sampai Maulana al-Syaikh mengadakan pengajian. Kebetulan tokoh penentang itu bernama Amaq Ribut. Untuk membahas masalah ini, Pengurus Daerah NW Kabupaten Lombok Barat dipanggil oleh Bupati Lombok Barat. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Bupati, Muspida, Dandim, serta Kapolres Lombok Barat.

Di hadapan peserta yang hadir, Bupati mengatakan agar Maulana al-Syaikh jangan sampai pergi ke Kebon Ayu untuk menghadiri pengajian tersebut. Bupati tidak akan bertanggung jawab terhadap keselamatan Maulana al-Syaikh jika sampai terjadi apa-apa di Kebon Ayu. Tetapi, pada hari H-, Maulana al-Syaikh tetap berangkat ke Kebon Ayu. Bersama rombongan, Maulana al-Syaikh, berangkat dari rumah Pajang. Beberapa orang turut serta dalam mobil rombongan Maulana al-Syaikh diantaranya Drs. H. Alidah Nur, H. Sulaiman, H. Yahya, H. Sabir, H. Mustafa dan Tuan Guru Bajang yang duduk dalam pangkuan Maulana al-Syaikh. Pada saat itu Tuan Guru Bajang masih kecil.

Dalam perjalanan ke Kebon Ayu, terlihat disepanjang jalan penjagaan sangat ketat. Tentara dan polisi disebar di sepanjang jalan setiap kurang lebih 40 meter. Hal ini dilakukan agar jangan sampai Maulana al-Syaikh sampai ke Kebon Ayu. Begitu pula dengan orang-orang yang berkendara/berjalan ke arah Kebon Ayu, yang menggunakan peci ataupun pakaian seakan-akan pergi pengajian, pasti akan dicegat oleh aparat yang berjaga. Namun, berkat keramat Maulana al-Syaikh dan atas pertolongan Allah SWT., tidak ada satu pun aparat dan Muspida (yang berjaga di sepanjang jalan) melihat mobil Maulana al-Syaikh.

Dalam perjalanan mencekam itu sempat Zainuddin muda meminta agar jendela kaca ditutup.

"Ninik tutup jendela," ucap Zainuddin muda perlahan.

"Ado anta ngno-ngno meq takutang," jawab Zainuddin lingsir (tua). [segitu aja ditakutkan]

"Ninik tutup kace jendela," ulangnya lagi dalam rasa khawatir melihat satu peleton pasukan dalmas polisi bersenjata.

"Ado anta tepu wah. Ke.. angkaq pegitang gigi meq ni..", kata Maulana tersenyum. [diam aja dah, ayo perlihatkan gigimu].

"Aro plinggih jaq bejorak" [kok candaan]

"Angkaq meq cengik" [nyengir makanya]

"Ngne ninik?", katanya sambil mempertunjukkan giginya. [begini ninik?].

Zainuddin Atsani pun menunjukkan giginya yang kurang beraturan itu sepanjang jalan sesuai perintah. Beliau tersenyum menghadapi pasukan dalmas itu. Anehnya, saat lewat di depan ia mendengar perintah agar mobil itu dikejar. Terdengar dialog antara pengendara motor yang taklain adalah polisi pengejar itu. Ajaib, tulisan di badan mobil itu dibacanya "mobil pariwisata", walhal itu adalah mobil setengah abad NWDI.

"Ini bukan mobil yang kita tunggu, ini mobil pariwisata. Biarkan saja dia lewat", kata polisi itu.

Sesampainya Maulana al-Syaikh di lokasi pengajian, jamaah bertangisan karena menyangka Maulana al-Syaikh tidak akan datang karena situasi yang sedang genting. Di hadapan jamaah pengajian, Maulana al-Syaikh sambil memangku Tuan Guru Bajang, berulang-ulang kali mengatakan "kacang arane ine, jemaq mun owah beleq Tuan Guru Bajang sine, mesaq-mesaqne ngadepin si ngene-ngene" (Kacang namanya ini, besok kalau sudah besar Tuan Guru Bajang ini, sendirian dia akan menghadapi yang seperti ini). Polisi pun ikut mengaji sambil berjaga.

Malam Wafatnya Maulana al-Syaikh

Pada malam wafatnya Maulana al-Syaikh (Isya, malam Rabu), di hadapan pembaringan Maulana al-Syaikh, Drs. H. Lalu Gede Wiresentane, H. Maksum, dan Drs. H. Alidah Nur duduk, sedangkan Tuan Guru Bajang yang kala itu tengah beranjak remaja, duduk di samping pembaringan Maulana al-Syaikh hingga larut malam. Tepatnya di kaki Maulana. Tiba-tiba Hajjah Rahmatullah (Ninik Tuan Guru Bajang) memanggil Tuan Guru Bajang "Gede wah jauk malem ne, bekelor juluk jauk malem ne" (Gede sudah larut malam ini, makan dulu sudah larut malam ini). Lantas Tuan Guru Bajang Menjawab "nggeh, masih ne tiang ngantih juluq, masih ndekne man" (Iya, masih ini saya menunggu dulu, masih belum), tanpa sedikit beranjak dari pembaringan Maulana al-Syaikh.

Zainuddin Atsani menuturkan bahwa saat itu beliau masih berbicara dan diberikan sesuatu. Beliau menyebutnya pembicaraan satu dan lain hal. Beliau masih berbicara layaknya Maulana masih hidup. Karena demikian halnya Zainuddin Atsani tidak sedih atau menangis. Beliau amat tenang saat itu. Beliau justru sadar dan tak mampu menahan tangis ketika TGH. Mahmud Yasin dan TGH. Lalu Anas Hasyri telah menutup wajah Maulana dengan kapas dan kain kafan lepas dimandikan. Sebelumnya ia sama sekali tidak diterpa kesedihan.

Menurut penuturan saksi mata yang hadir pada saat itu, Tuan Guru Bajang di samping pembaringan Maulana al-Syaikh duduk dengan menekukkan kaki ke belakang (seperti posisi tahiyat awal) sembari mendekatkan mukanya berhadap-hadapan dengan muka Maulana al-Syaikh. Beberapa kali kaki Maulana al-Syaikh terlihat masih bergerak-gerak.

Kehendak itu, iradah
Iradah "menjadi" biasanya melalui proses menjadi murid
Iradah "menjadi" juga bisa spontan (laduni) yakni murad.
Iradah Allah itu cinta; mencintai atau dicintai.

 

****
Cuplikan dari Buku Barakah Cinta Maulana
Buku Ketiga - Trilogi Cinta Maulana
Catatan Murid Maulana
Dari Majlis al-Aufiya' wal-Uqala'

Dipublikasikan › 04-10-2016 | Dibaca › 3965 kali

Komentar


akhmad mustaan | 15-01-2017 11:05
Alhamdulillah lewat cerita ini kita mengetahui kebesaran Bpk maulana syekh

Rudi Hartono | 05-10-2016 15:16
Tulisannya momitvasi sekali. Saya berharap supaya tulisan-tulisan mengenai cerita maulana syekh semakin banyak supaya pembaca tetmotivasi.

Minhajurrahman | 05-10-2016 08:23
Artikelx bagus sekali,penambah semangat dan motivasi.
Saran sy setiap tulisan spy sumber primerx atau kutipanx di tulis juga.
Semoga bermamfaat