RADIO DEWI ANJANI

Get the Flash Player to hear this stream.

Khutbah Wukuf: Capai Kemabruran dengan Semangat Fastabiqul Khairat

Naib (Wakil) Amirul Haj KH Miftahul Akhyar mengajak jemaah haji yang tengah wukuf di Padang Arafah untuk menjalankan semangat fastabiqul khairat saat kembali ke tanah air untuk mencapai kemabruran.

Fastabiqul khairat merupakan sebuah ajakan yang artinya berlomba-lombalah berbuat kebajikan.

"Apabila kita pulang ke tanah air kelak, hendaklah kita mengambil pengalaman dari pada haji ini yaitu semangat fastabiqul khairat, dan bergairah dalam ibadah sebagai titik nol perubahan dalam kehidupan kita," kata Miftahul yang juga wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam khutbah wukuf di Arafah, Ahad (11/09/2016).

Perubahan itu dapat dilakukan dengan mengoptimalkan segala perintah Allah SWT dalam kesatuan iman, ibadah, pergaulan, dan bermuamalah. "Semoga Allah menganugerahkan predikat haji mabrur," katanya.

Miftahul sebelumnya menuturkan tentang ritual haji, khususnya wukuf di Arafah hingga melempar jumrah di Mina, di mana seluruh jemaah haji, harus singgah di tempat-tempat ini, yang alasannya tidak sederhana.

Menurutnya, haji adalah gerakan dan perjalanan kembali kepada Allah SWT yang dilakukan dengan beberapa tahap, yakni Arafah, Muzdalifah dan Mina, yang kesemuanya harus dilalui. Sedang lainnya, seperti tawaf merupakan konsekuensi rukun atau wajib dari akumulasi ketiganya.

Ia lalu membeberkan arti tahapan-tahapan itu, yakni Arafat yang berarti pengetahuan dan sains, masy'ar yang berarti kesadaran dan pengertian, serta Mina berarti cinta dan keyakinan.

Menurut Miftahul, secara logika memang aneh ketika melakukan haji, gerakan pertamanya bermula di Arafah. Berdiam diri atau wukuf di Arafah dimulai saat siang hari tanggal 9 Dzulhijjah, ketika matahari sedang terik-teriknya.

"Hikmahnya agar kalian memperoleh kesadaran, wawasan, pengetahuan di siang hari. Begitu matahari terbenam maka wukuf di Arafah itu pun berakhir," kata dia.

Bersama-sama dengan terbenamnya matahari Padang Arafah, jemaah bergerak ke arah barat hingga Muzdalifah atau negeri kesadaran. Di sini jemaah berhenti untuk bermalam, begitu pula saat di Mina.

"Karena itu biarkanlah instink-instink dan sifat-sifat kita yang hakiki berkembang di bawah sorotan matahari Arafah yang terang benderang. Jangan hindari terik matahari. Cahaya dan orang yang lalu lalang sebagai gambaran di padang Mahsyar nanti," katanya. Saat ini manusia seperti pelita yang sedang mengisi bahan bakar untuk menerangi hati umat manusia.

Jika Padang Arafah merupakan tahap pengalaman dan obyektivitas, maka Muzdalifah adalah tahap wawasan dan subyektivitas. Arafat adalah tahap pemikiran yang bersih dari penyelewengan dan penyakit, dan Masy'ar tahap kesadaran yang penuh dengan tanggung jawab, kesucian, dan kesalehan.

Lalu saat melanjutkan perjalanan ke Mina dari kesadaran yang lahir dari pengetahuan muncullah cinta (Mina). "Allah akan menyalakan cahaya (nur) ini di dalam diri orang-orang yang dikehendaki-Nya. Semoga para Hujjaj khususnya kita yang ada di sini tergolong orang-orang yang memperoleh hikmah," katanya.

Karenanya, seiring keutamaan Arafah, ia mengajak seluruh jemaah memperbanyak zikir, doa, tahlil, talbiyah, membaca al quran dan merendahkan diri kepada Allah SWT

"Jangan sia-siakan kesempatan dan peluang emas ini, lantaran inilah puncak ibadah dalam kehidupan seorang muslim. Mohonlah kebaikan dunia akhirat," katanya.

Sumber: kemenag.go.id

Dipublikasikan › 12-09-2016 | Dibaca › 512 kali

Komentar